Keberadaan Pemuda pada umumnya di tingkat organisasi lokal yang ada masih mengandalkan pola gerakan dan aktifitas yang sifatnya sporadis maupun seremonial belaka. Waktu hanya banyak dihabiskan untuk berkumpul di sudut-sudut hingar bingar dentuman house music sebuah klub malam pada malam hari dan siang hari juga tersita dengan diskursus yang katanya “menggeliat, menggigit dan bermutu” akan tetapi isi perbincangan hanya penuh dengan wacana tanpa menghasilkan suatu gerakan yang lebih membangun.
Padahal tantangan zaman yang berubah demikian cepat, menuntut kita juga untuk selalu dinamis dalam melakukan kegiatan dan peran yang lebih nyata untuk menciptakan ide-ide maupun kerja nyata, apalagi di era teknologi dan modern seperti saat ini. Kebangkitan kaum muda sejak peristiwa Sumpah Pemuda 80 tahun lalu harusnya sudah dapat melahirkan pemuda-pemuda yang kreatif dan handal dalam mencuatkan ide-ide dan gagasan baru yang nyata bukan hanya untuk dilihat tetapi kita merasa puas setelah ide tersebut terlaksana dengan baik.
Bukankah Pemuda yang yang telah berjuang dan meletakkan ide dasar negara kita yang pada 80 tahun lalu berteriak lantang SUMPAH PEMUDA...!!! Disusul dengan peristiwa Rengasdengklok yang menghasilkan Proklamasi kemerdekaan negara ini. Pemuda pun juga yang melahirkan beberapa orde dalam peristiwa sejarah kebangsaan dari sejak runtuhnya Orde Lama dan lahirnya Orde Baru hingga yang terkini yaitu runtuhnya Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi. Tapi sekarang apa yang telah kita perbuat... Kita juga yang menodai reformasi itu.
Seharusnya dalam zaman reformasi ini, sebagai pemuda kita memeliharanya dengan tindakan konkret, nyata dan terarah. Salah satunya adalah dengan ikut mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi khususnya bagi diri sendiri untuk mendapatkan hasil pendapatan yang lebih baik lagi dari hari kemarin, karena sebuah lingkungan yang demokratis harus didukung oleh keadaan ekonomi masyarakat sekitar yang sejahtera. Tentunya hal ini dimulai dari lingkungan terdekat kita. Jika hal ini terabaikan maka kemiskinan akan terus meningkat yang membuat lingkungan masyarakat manjadi pesimis dan mendorong gelombang balik otoriterianisme yang benar-benar akan terjadi.
Sangat ironis, keadaan pasca reformasi dan krisis ekonomi hingga munculnya kembali krisis global saat ini, yang merasakan paling banyak menanggung beban adalah kalangan usia muda dan produktif, pengangguran banyak terlihat di mana-mana padahal kaum muda lah yang berperan utama dalam melakukan perubahan di orde reformasi ini. Apakah pemerintah yang salah dan berperan besar dalam hal ini ? Ataukah memang kesempatan yang ada tidak digunakan oleh kaum muda untuk berkreasi ?
Saat ini yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah peran nyata kaum muda yang dapat menjadi penggerak ekonomi untuk mengatasi perbaikan sosial sehingga dapat mempersempit masalah-masalah soisal-ekonomi yang membelit lingkungan masyarakat karena kaum muda jugalah yang banyak terdapat di sektor itu. Untuk mendukung kemandirian kaum muda dibutuhkan skema kegiatan yang jelas dan terarah dan lebih utama juga adalah kemauan dan kesungguhan dalam merubah pola pikir dari sekadar rencana menjadi tindak nyata. Energi kaum muda yang besar harus dapat lebih dimanfaatkan dengan mengelola manajemen kerja yang lebih profesional dalam setiap usaha dan bidan kerjanya masing-masing.
Untuk itu dibutuhkan kualitas intelektual, moral maupun sikap kerja dalam semanagat kaum muda untuk mengahadapi perubahan-perubahan sosial yang begitu cepat, agar kaum muda dapat menjadi barisan terdepan dalam mencetuskan dan menggerakkan perbaikan sosial-ekonomi itu dimulai dari menciptakan dan menggerakkan sektor usaha kecil dan riil sehingga tercipta kemandirian dan dapat membangun jaringan sektor usaha yang mantap dalam menciptakan kesjahteraan lingkungan.
Semoga dengan semangat 80 TAHUN SUMPAH PEMUDA ini tetap terpatri dalam diri, bukan hanya sebagai slogan semata untuk lebih menunjukkan karya tetapi juga dapat di tularkan kepada semua elemen masyarakat lainnya untuk melakukan perubahan.***