Catatan kecil ini hanyalah sebuah pengingatan dan merupakan rangkaian yang kami tautkan satu demi satu kata, bukan untuk menggurui atau mengajarkan “sesuatu” akan tetapi hanya sebagai fungsi mengembalikan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya yang lemah yang didudukan-Nya di muka bumi ini untuk mengemban dan memelihara ayat-ayat-Nya.
Mohon maaf bila ada kata kurang bermakna dalam penulisan ini baik segi bahasa maupun penyusunan kalimat-kalimat bila tak berkenan atau sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan, sebab kami menulis ini untuk menyusun sekenanya saja tanpa bermaksud lebih.
Akan tetapi apalah gunanya sebuah kata-kata yang dilontarkan bila maksud dan tujuan penyampaiannya tak menggugah simpati. Kata-kata hanyalah bayangan dan cabang dari kenyataan. Apabila bayangan saja dapat menawan hati betapa mempesonanya kekuatan kenyataan yang ada dibalik bayangan itu.
Kata-kata hanyalah pra-teks akan tetapi aspek simpatilah yang dapat menarik satu orang pada orang lainnya. Walaupun manusia sudah dan dapat melihat mukjizat yang datang dari seorang Suci atau seorang Nabi sekalipun, hal yang demikian tidak akan membawa suatu keuntungan bagi seseorang bila dalam dirinya tidak mempunyai unsur simpati sedikitkpun karena unsur simpatilah yang dapat mengguncangkan dan menggerakkan seseorang untuk patuh dan unsur simpati itulah yang memiliki kekuatan dahsyat yang tak dapat diraba dan diindera oleh seseorang.
Gambaran yang ada dalam pikiran manusia terkadang membawanya untuk membuat kesimpulan akan hal-hal yang ada dalam mental pikiran. Seperti kita menghayalkan berada dalam lingkungan taman yang asri dan teduh akan membawa juga pengaruh terhadap keadaan dan situasi yang nyaman. Kadang-kadang juga gambaran yang muncul adalah suasana ditengah kesemrawutan dan lalu lintas yang macet juga membawa mental pikiran kita menjadi kacau dan tidak tenang.
Tetapi gambaran mental yang ada dalam pikiran kadang menipu diri. Seperti sebuah muslihat yang tersembunyi dan tidak disadari. Suatu saat kita berpikir akan tamasya ke suatu tempat yang jauh dari keramaian dan menenangkan hati. Setelah sampai ditempat yang dibayangkan tersebut, apa yang terjadi.? Kita kecewa karena tempat yang digambarkan ternyata tidak sesuai dengan gambaran yang telah dipikirkan sebelumnya. Pikiran telah menipu kita. Tempat yang dituju hanya menambah kesemrawutan pikiran***











